Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Desember 2013

KETERAMPILAN BERBAHASA TERPADU



A. Ketrampilan Berbahasa Terpadu dengan Fokus Menyimak dan Berbicara

1. Ketrampilan menyimak (listening skills)
Menyimak merupakan salah satu jenis ketrampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat reseptif. Dengan demikian, menyimak tidak sekedar kegiatan mendengarkan tapi juga memahaminya. Kegiatan menyimak merupakan kegiatan berbahasa yang kompleks karena melibatkan berbagai proses menyimak pada saat yang sama. Menyimak bukan merupakan suatu proses pasif, melainkan suatu proses aktif dalam mengonstruksikan suatu pesan dari suatu arus bunyi yang diketahui orang sebagai potensi-potensi fonologis, semantik, dan sintaksis suatu bahasa.
Kegiatan menyimak juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang meliputi fisik, psikologis, pengalaman, sikap, motivasi, jenis kelamin, lingkungan, dan peranan dalam masyarakat.
Ada beberapa macam tujuan dalam kegiatan yang dilakukan orang pada umumnya, yaitu: mendapatkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta atau informasi yang ada, mendapatkan inspirasi, mendapatkan hiburan, dan memperbaiki kemampuan berbicara.
Secara garis besar, menyimak dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Menyimak ekstensif
Menyimak ekstensif adalah jenis kegiatan menyimak yang mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terdapat suatu ujaran, tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari seorang guru. Menyimak ekstensif terdiri dari:
1) Menyimak sosial
2) Menyiamk sekunder
3) Menyimak estetik
4) Menyimak pasif

b. Menyimak intensif
Menyimak intensif adalah jenis menyimak yang pelaksanaannya diarahkan pada satu kegiatan yang lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu. Menyimak intensif terdiri atas beberapa jenis berikut:
1) Menyimak kritis
2) Menyimak kreatif
3) Menyimak eksploratif
4) Menyimak introgatif
5) Menyimak selektif
6) Menyimak kostratif

Tujuan pembelajaran menyimak pada semua janjang pendidikan pada dasarnya dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut:
1) Persepsi, yakni ciri kognitif dari proses mendengarkan yang didasarkan pemahaman pengetahuan tentang kaidah-kaidah kebahasaan.
2) Resepsi, yakni pemahaman pesan atau penafsiran yang dikehendaki oleh pembaca.

2. Ketrampilan berbicara (speaking skills)

Berbicara merupakan salah satu jenis ketrampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat produktif. Dalam konteks komunikasi, pembicara berlaku sebagai pengirim (sender), sedangkan penerima (receiver) adalah penerima warta (message). Warta terbentuk oleh informasi yanng disampaikan sekunder, dan message merupakan objek dari komunikasi.
Ketrampilan berbicara pada hakekatnya merupakan ketrampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan kegiatan pada orang lain.

Ragam berbicara
1) Pidato
2) Diskusi
3) Menyampaikan pengumuman
4) Menyampaukan argumentasi
5) Bercerita
6) Musyawarah
7) Wawancara

Hubungan antara menyimak dan berbicara yaitu: Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung, merupakan komunikasi tatap muka atau face to face communication.

B. Ketrampilan Berbahasa Terpadu dengan Fokus Membaca dan Menulis

1. Ketrampilan membaca (reading skills)
Membaca merupakan salah satu jenis ketrampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat reseptif. Ketrampilan membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari ketrampilan menyimak dan berbicara.
Membaca pada hakikatnya adalah proses decoding oleh penerima pesan, yaitu proses memaknai bentuk-bentuk bahasa tertulis sehingga pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan dapat diterima secara utuh. Jika menulis bersifat produktif, karena aktivitas menulis menghasilkan bahasa ragam tulisan. sedangkan membaca bersifat reseptif, karena membaca berupaya menerima informasi yang disampaikan penulis.

Berdasarkan tujuan membaca yang ingin dicapai, Jazir Burhan mengemukakan ada beberapa jenis membaca, antara lain
1) Membaca intensif
2) Membaca kritis
3) Membaca cepat
4) Membaca Untuk keperluan praktis
5) Membaca untuk keperluan studi

2. Ketrampilan menulis (writing skills)
Menulis merupakan salah satu jenis ketrampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat produktif. Menulis dapat dikatakan ketrampilan berbahasa yang paling rumit diantara jenis-jenis ketrampilan berbahasa lainnya. Ini karena menulis bukanlah sekedar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat; melainkan juga mengembangkan dan menuanngkan pikiaran-pikiran dalam suatu srtuktur tulisan yang teratur.
Menulis merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan salah satu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan satu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka mamahami bahasa dan gambar grafik itu.
Fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berfikir. Tulisan dapat membantu kita menjelaskan pikiran-pikiran kita.

Ragam Tulisan
1) Narasi
Narasi adalah jenis karangan yang menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman berdasarkan urutan waktu (kronologis).
2) Deskripsi
Deskripsi adalah jenis karangan yang melukiskan atau menggambarkan suatu objek apa adanya, sehingga pembaca ikut juga merasakan, mengalami, melihat, dan mendengar apa yang ditulis si pengarang itu.
3) Eksposisi
Eksposisi adalah jenis karangan yang bertujuan menambah pengetahuan pembaca dengan cara memaparkan informasi secara aktual.
4) Argumentasi
Argumentasi adalah jenis karangan yang bertujuan mempengaruhi pembaca dengan bukti-bukti, alasan, atau pendapat yang kuat, sehingga gagasan yang dikemukakan penulis dapat diyakini/dipercaya oleh pembaca.

Hal-hal yang Perlu di Perhatikan dalam Kegiatan Tulis-menulis
1. Paragraf
2. Kerangka Karangan
3. Langkah-langkah Menyusun Kerangka
4. Pengembangan Kerangka Karangan

Hubungan antara membaca dan menulis yaitu: membaca dan menulis merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Menulis merupakan kegiatan berbahasa berbahasa yang bersifat produktif, sedangkan membaca merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat reseptif. Seorang penulis guna menyampaikan gagasan, perasaan, atau informasi dalam bentuk tulisan. Sebaliknya, seseorang membaca guna memahami gagasan, perasaan, atau informasi yang disajikan dalam bentuk tulisan tersebut.


Sumber:http://intannurulhusnah.blogspot.com/2009/12/ringkasan-materi-ketrampilan-berbahasa.html

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR GURU DALAM PEMBELAJARAN TERPADU

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR GURU DALAM PEMBELAJARAN TERPADU

INTERAKSI  EDUKATIF

1.     Pengertian
Interaksi yang bernilai edukatif yaitu interaksi yang dengan sadar akan meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang. Dalam dunia pendidikan interaksi inidisebut interaksi edukatif. Interaksi edukatif adalah sustu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan .Belajar-mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normative karena didalamnya terdapat sejumlah nilai maaka wajarlah jika interaksi itu dinilai bernilai edukatif.


2.     Ciri-ciri interaksi edukatif
Sebagai interaksi yang bernilai normative maka interaksi edukatif mempunyaicirri-ciri sebagai berikut :
a.      Interaksi edukatif mempunyai tujuan
         Tujuan interaksi edukatif adalah untuk membantu anak didik untuk mencapai                  tujuan  perkembangan tertentu.
b.     Interaksi edukatif menpunyai prosedur yang direncanakan untuk mencapai tujuan.
c.      Interaksi edukatif ditandai dengan penggarapan materi khusus
d.     Ditandai dengan aktifitas anak didik
e.      Guru berperan sebagai pembimbing
f.      Interaksi edukatif membutuhkan disiplin
g.     Mempunyai batas waktu
h.     Diahiri dengan evaluasi

3.     Prinsip-prinsip interaksi edukatif

Prinsip-prinsip interaksi edukatif diharapkan mampu menjembatani dan memecahkaan berbagai masalah yang dihadapi guru dalam kegiatan interaksi edukatif. Sebagai guru harus memahami dan menguasai prinsip-prinsip interaksi edukatif sebagai berikut :

a.      Prinsip motivasi
Seorang guru harus dapat memberikan motivasi yang bervariasi kepada anak didik, karena tidak semua anak didik termotivasi untuk mengikuti atau menerima pelajaran.

b.     Prinsip berangkat dari persepsi yang dimiliki
Setiap anak memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Penjelasan yang disampaikan guru sebaiknya mengkaitkan pengetahuan dan pengalaman anak didik sehingga memidahkan anak menanggapi dan memahami pengalaman baru bahkan membuat anak mudah memusatkan perhatiannya.

c.      Prinsip mengarah pada titikpusat perhatian tertentu.
Titik pusat ( focus ) akan membatasi keluasan dan kedalaman tujuan belajar serta akan memberikan arah kepada tujuan.

d.     Prinsip keterpaduan
Yaitu keterkaitan antara satu tema dengan tema lain, satu bidang pengembangan dengan pengembangan lainnya dalam kegiatan pembelajaran.

e.      Prinsip pemecahan masalah yang dihadapi
Guru erlu menciptakan suatu masalah untuk melatih anak dalam memecahkan berbagai masalah sesuai dengan tema yang dipelajari.

f.      Prinsip mencari, menemukan, dan mengembangkan sendiri.
Sebagai guru memberikan kesempatan kepada anak untuk mencari dan menemukan sendiri berbagai informasi. Tugas guru adalah memfasilitasinya.

g.     Prinsip belajar sambil bekerja
Belajar sambil melakukan aktifitas akan memberikan hasil dan menimbulkan kesan yang lebih permanen dalam diri anak.

h.     Prinsip hubungan sosial
Sosialisasi perlu diciptakan dalam kegiatan belajar mengajar, anak juga perlu dilatih dalam membina hubungan sosial dengan teman, dengan guru, dan orang lain yang terdapat disekolah.

i.       Prinsip perbedaan individu
Setiap anak adalah unik dan berbeda dari anak yang lainnya, guru perlu menyadarinya sehingga mudah melakukan interaksi edukatif.

B.   KEDUDUKAN GURU DAN ANAK DIDIK

1.   Kedudukan guru
Guru adalah seorang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditempat-tempat tertentu ( tidak hanya dilembaga pendidikan formal ). Menurut prof. Dr. zakiah derajaat dan kawan-kawan ( syaaiful Bahri, 1997: 32 ) seorang guru harus memenuhi beberapa syarat yaiyu ;

a.      Takwa kepada Allah SWT
Guru tidak mungkin mengajarkan peserta didiknya bertakwa kepada Tuhan jika dia sendiri tidak bertakwa kwpada Tuhan. Guru adalah teladan bagi anak didknya.

b.     Berilmu
Guru harus mempunyai ijazah agar diperboekan mengajar ( kecuali dalam keadaan darurat).

c.      Sehat jasmani
Kesehatan badan sangat berpengaruh terhadap semangat kerja.

d.     Berkelakuan baik
Guru harus menjadi teladan karena anak bersifat suka meniru. Oleh sebab itu guru harus mempunyai akhlak dan budi pekerti yang baik.

e.      Bertanggung jawab
Guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku, dan perbuatannya dalam rangka membina dan jiwa dan watak anak didik.

f.      Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.

2.       Kedudukan Peserta Didik/ Anak Didik
Anak didik adalah pokok persoalan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Anak didik merupakan kunci yang menentukan untuk terjadinya interaksi pendidikan.

C.    KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

1.     Keterampilan bertanya 
Dengan menerapkan keterampilan bertanya yang efektif dan efisien dalam proses pembelajaran guru dapat meningkatkan kemampuan anak didik unttik berpikir, memperoleh dan memperluas pengetahuan serta meningkatkan motivasi didik untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.

Tujuan dari keterampilan bertanya dalam kegiatan pembelajaran adalah :
a.    Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu.
b.    Memusatkan perhatian anak.
c.    Mendiaknosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat anak belajar.
d.    Mengembangkan cara belajar anak secara aktif.
e.    Member kesempatan pada anak untuk mengasimilasi informasi.
f.     Mendorong anak mengemukakan pendapat dan pandangannya dalam diskusi.
g.    Mengukur dan menguji hasil belajar anak.

Keterampilan bertanya dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1.     Keteramplan bertanya dasar
Keterampilan yang mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan.
2.     Keterampilan bertanya lanjutan.
Keterampilan bertanya lanjutan merupakan lanjutan dari keterampilan bertanya dasar yang lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemaampuan berpikir anak didik, memperbesar partisipasi dan mendorong anak dapat berinisiatif sendiri.

2.     Keterampilan Memberi Penguatan
Tingkah laku dan perbuatan ank yang baik diberikan senyuman atau kata pujian merupakan penguatan terhadap tingkah laaku daan perbuatan anak. Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulang kembali tingkah laku tersebut.

3.     Keterampilan Memberikan Variasi
Kebosanan akan terjadi apabila seseorang selalu melihat, mendengar, merasakan dan melakukan hal yang sama secara terus-menerus. Untuk itu pembelajaran perlu diberikan secara bervariasi. Variasi dalam pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi anak didik serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan.

4.     Keterampilan menjelaskan
Menjelaskan merupakan aktivitas yang paling sering dilakukan oleh guru dalam menyampaikan informasi. Menjelaskan berarti mengorganisasikan materi pembelajaran dalam tata urutan yang terencan secara sistimatis sehingga dengan mudah dapat dipahami oleh anak didik. Keterampilan menjelaskan mutlak perlu dimiliki oleh para guru.

5.     Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan tujuan berbagai pengalaman atau informasi, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah.
Komponen yang perlu dimiliki guru yaitu ;
a.      Memusatkan perhatian anak didik.
b.     Memperjelas masalah atau urun pendapat.
c.      Menganalisis pandangan anak didik.
d.     Meningkatkan partisipasi anak didik.
e.      Member kesempatan untuk berpatisipasi.
f.      Menutup diskusi ( merangkum hasil diskusi, tindak laanjud, mengajaak peserta untuk menilai diskusi ).

6.     Keteranpilan Mengola Kelas
Keterampilan mengola kelas adalah keterampilan dalam menciptakan dan  serasi. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan belajar yang optimal.
a.      Keterampilan pengendalian kondisi belajar yang optimal. Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap respon anak didik yang berkelanjutan, seperti adil,menandai, dan menghentikan perilaku yang menyimpang, member penguatan.

7.     Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan
Mengajar kelompok kecil dan perorangan terjadi dalam konteks pengajaran klasikal. Pengajaran kelompok kecil dan perorangan memerlukan keterampilan penanganan anak dan penanganan tugas.
Keterampilan yang perlu dikuasai guru adalah ;
a.      Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi.
b.     Keterampilan mengorganisasi.
c.      Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar.
d.     Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.


8.     Keterampilan Supervisi Klinis
Supervise klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu mengembangkan profesional guru / calon guru khususnya daalam penanpilan mengajar berdasarkan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut.
Jadi, focus supervise klinis adalah penampilan guru secara aktual paadaa saat mengaajar ( termasuk pula guru sebagai peserta atau partisipan aktif dalam proses supervise tersebut ).



Sumber : http://nofracandralovia.blogspot.com/2012/11/keteranpilan-dasar-mengajar-guru-dalam.html

Keterampilan Berbahasa

A.       Pengertian Keterampilan Berbahasa 
Menurut Hoetomo MA (2005:531-532) terampil adalah cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. Keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas. atau kecakapan yang disyaratkan. Dalam pengertian luas, jelas bahwa setiap cara yang digunakan untuk mengembangkan manusia, bermutu dan memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sebagaimana diisyaratkan (Suparno, 2001:27).

B.        Aspek Keterampilan Berbahasa 
Keterampilan berbahasa mencakup empat keterampilan yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
1.        Keterampilan Menyimak
Menyimak adalah keterampilan memahami bahasa lisan yang bersifat reseftif. Dengan demikian di sini berarti bukan sekedar mendengarkan bunyi-bunyi bahasa melainkan sekaligus memahaminya. Dalam bahasa pertama (bahasa ibu), kitamemperoleh keterampilan mendengarkan melalui proses yang tidak kita sadari sehingga kitapun tidak menyadari begitu kompleksnya proses pemmerolehan keterampilan mendengar tersebut. Berikut ini secara singkat disajikan disekripsi mengenai aspek-aspek yang terkait dalam upaya belajar memahami apa yang kita sajikan dalam bahasa kedua.
Ada dua jenis situasi dalam mendengarkan yaitu situasi mendengarkan secara interaktif dan situasi mendengarkan secara non interaktif. Mendengarkan secara interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka dan percakapan di telepon atau yang sejenis dengan itu. Dalam mendengarkan jenis ini kita secara bergantuan melakukan aktivitas mendengarkan dan memperoleh penjelsan, meminta lawan bicara mengulang apa yang diucapkan olehnya atau mungkin memintanya berbicara agak lebih lambat. Kemudian contoh situasi-situasi mendengarkan noninteraktif, yaitu mendengarkan radio, TV, dan film, khotbah atau mendengarkan dalam acara-acara seremonial. Dalam situasi mendengarkan nonietraktif tersebut, kita tidak dapat meminta penjelasan dari pembicara, tidak bisa meminta pembicaraan diperlambat. 
Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan mikro yang terlibat ketika kita berupaya untuk memahami apa yang kita dengar, yaitu pendengar harus;
·         Menyimpan/mengingat unsur bahasa yang didengar menggunakan daya ingat jangka pendek (short term memory).
·         Berupaya membedakan bunti-bunyi yang yang membedakan arti dalam bahasa target.
·         Menyadari adanya bentuk-bentuk tekanan dan nada, warna suara dan intinasi, menyadari adanya reduksi bentuk-bentuk kata.
·         Membedakan dan memahami arti dari kata-kata yang didengar.
·         Mengenal bentuk-bentuk kata yang khusus (typical word-order patterns) 
·         Mendeteksi kata-kata kunci yang mengidentifikasi topik dan gagasan.
·         Menebak makna dari konteks
·         Mengenal kelas-kelas kata
·         Menyadari bentuk-bentuk dasar sintaksis
·         Mengenal perangkat-perangkat kohesif

2.        Keterampilan Berbicara
Kemudian sehubungan dengan keterampilan berbicara secara garis besar ada tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiaktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi berbicara interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya pergantuan anatara berbicara dan mendengarkan, dan juga memungkinkan kita meminta klarifikasi, pengulangan atau kiat dapat memintal lawan berbicara, memperlambat tempo bicara dari lawan bicara. Kemudian ada pula situasi berbicara yang semiaktif, misalnya dalam berpidato di hadapan umum secara langsung. Dalam situasi ini, audiens memang tidak dapat melakukan interupsi terhadap pembicaraan, namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Beberapa situasi berbicara dapat dikatakan bersifat noninteraktif, misalnya berpidato melaluiradio atau televisi. 
Berikut ini beberapa keterampilan mikro yang harus dimiliki dalam berbicara, dimana permbicara harus dapat;
·         Mengucapkan bunyi-bunyi yang berbeda secara jelas sehingga pendengar dapat membedakannya.
·         Menggunakan tekanan dan nada serta intonasu secara jelas dan tepat sehingga pendengar daoat memahami apa yang diucapkan pembicara.
·         Menggunakan bentuk-bentuk kata, urutan kata, serta pilihan kata yang tepat.
·         Menggunakan register aau ragam bahasa yang sesuai terhadap situasi komunikasi termasuk sesuai ditinjau dari hubungan antar pembicara dan pendengar.
·         Berupaya agar kalimat-kalimat untama jelas bagi pendengar.
·         Berupaya mengemukakan ide-ide atau informasi tambahan guna menjelaskan ide-ide utama

3.        Keterampilan Membaca
Membaca adalah keterampilan reseptif bahasa tulis. Keterampilan membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan mendengar dan berbicara. Tetapi, pada masyarakat yang memilki tradisi lireasi yang telah berkembang, seringkali keterampilan membaca dikembangkan secara terintergrasi dengan keterampilan menyimak dan berbicara.
Keterampilan-keterampilan mikro yang terkait dengan proses membaca yang harus dimiliki oleh pembicara adalah
·         Mengenal sistem tulisan yang digunakan.
·         Mengenal kosakata.
·         Menentukan kata-kata kunci yang mngindentifikasikan topik dan  gagasan utama.
·         Menentukan makna kata-kata, termasuk kosakata split, dari   konteks tertulis.
·         Mengenal kelas kata gramatikal, kata benda, kata sifat, dan sebagainya.
·         Mengenal bentuk-bentuk dasar sintaksis

4.        Keterampilan Menulis
Menulis adalah keterampilan produktif dengan menggunakan tulisan. Menulis dapat dikatakan suatu keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenis-jenis keterampilan berbahasa lainnya. Ini karena menulis bukanlah sekedar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat, melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur. 
Berikut ini keterampilan-keterampilan mikro yang diperlukan dalam menulis antara lain:
·         Menggunakan ortografi dengan benar, termasuk di sini penggunaan ejaan.
·         Memilih kata yang tepat.
·         Menggunakan bentuk kata dengan benar.
·         Mengurutkan kata-kata dengan benar.
·         Menggunakan struktur kalimat yang tepat dan jelas bagi pembaca.

Sumber:  Sunarti, dkk. 2009. Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta


Selasa, 17 September 2013

Jenis Jenis Menyimak



Menyimak ada berbagai macam jenis. Namun beberapa jenis tersebut dibedakan berdasarkan kriteria tertentu, yakni berdasarkan suber suara, berdasarkan bahan simak, dan berdasarkan pada titik pandang aktivitas menyimak

1) Berdasarkan Sumber Suara

Berdasarkan sumber suara yang disimak, dikenal dua jenis nama penyimak yaitu intrapersonal listening atau menyimak intrapribadi dan interpersonal listening atau menyimak antarpribadi.

Sumber suara yang disimak dapat berasal dari diri kita sendiri. Ini terjadi di saat kita menyendiri merenungkam nasib diri, menyesali perbuatan sendiri, atau berkata-kata dengan diri sendiri. Jenis menyimak yang seperti inilah yang disebut intrapersonal listening.

Sumber suara yang disimak dapat pula berasal dari luar diri penyimak. Menyimak yang seperti inilah yang paling banyak kita lakukan misalnya dalam percakapan, diskusi, seminar, dan sebagainya. Jenis menyimak yang seperti ini disebut interpersonal listening.

2) Berdasarkan Cara Penyimakan

Berdasarkan cara penyimakannya, menyimak dibagi menjadi dua ragam, yakni menyimak intensif dan menyimak ekstensif.


Menyimak intensif

Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam. Dengan cara menyimak yang intensif, penyimak melakukan penyimakan dengan penuh perhatian, ketelitian, dan ketekunan, sehingga penyimak memahami secara luas bahan simakannya. Jenis menyimak seperti ini dibagi atas beberapa jenis, yaitu :


Menyimak kritis, bertujuan untuk memperoleh fakta yang diperlukan. Penyimak menilai gagasan, ide, informasi dari pembicara. Contoh: orang yang menghadiri seminar akan memberikan tanggapan terhadap isi seminar.


Menyimak introgatif, merupakan kegiatan menyimak yang menuntut konsentrasi dan selektivitas, pemusatan perhatian karena penyimak akan mengajukan pertanyaan setelah selesai menyimak. Contoh: seseorang yang diinterogasi oleh polisi karena telah melakukan kejahatan.


Menyimak penyelidikan, yakni sejenis menyimak dengan tujuan menemukan. Contoh: seorang yang masih diduga telah membunuh orang lain sedang diselidiki oleh polisi dengan mengutarakan beberapa pertanyaan yang harus di jawab. Maka polisi melakukan menyimak penyelidikan saat sang tersangka menjawab pertanyaannya.


Menyimak kreatif, mempunyai hubungan erat dengan imajinasi seseorang. Penyimak dapat menangkap makna yang terkandung dalam puisi dengan baik karena ia berimajinasi dan berapresiasi terhadap puisi itu.


Menyimak konsentratif, merupakan kegiatan untuk menelaah pembicaraan/hal yang disimaknya. Hal ini diperlukan konsentrasi penuh dari penyimak agar ide dari pembicara dapat diterima dengan baik. Contoh: saat mahasiswa melaksanakan tes toefl sesi listening, ia melakukan simak konsentratif agar dapat memahami maksud sang pembicara dengan tepat.


Menyimak selektif, yakni kegiatan menyimak yang dilakukan dengan menampung aspirasi dari penutur / pembicara dengan menyeleksi dan membandingkan hasil simakan dengan hal yang relevan. Contoh: menyimak acara televisi dan memilah-milah mana yang boleh ditonton oleh anak kecil dan mana yang dilarang.


Menyimak ekstensif

adalah proses menyimak yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: menyimak radio, televisi, percakapan orang di pasar, pengumuman, dan sebagainya. Menyimak siperti ini sering pula diartikan sebagai kegiatan menyimak yang berhubungan dengan hal-hal yang umum dan bebas terhadap suatu bahasa. Dalam prosesnya di sekolah tidak perlu langsung di bawah bimbingan guru. Pelaksanaannya tidak terlalu dituntut untuk memahami isi bahan simakan. Bahan simakan perlu dipahami secara sepintas, umum, garis besarnya saja atau butir-butir yang penting saja. Jenis menyimak ekstensif dapat dibagi empat:


Menyimak sekunder, yakni sejenis mendengar secara kebetulan, maksudnya menyimak dilakukan sambil mengerjakan sesuatu.

Contoh : Ahmad sedang mencuci motor tanpa sadar ia mendengar Ibunya bercerita di teras dengan tetangganya.


Menyimak estetik, yakni penyimak duduk terpaku menikmati suatu pertunjukkan misalnya, lakon drama, cerita, puisi, baik secara langsung maupun melalui radio. Secara imajinatif penyimak ikut mengalami, merasakan karakter dari setiap pelaku.


Menyimak pasif, merupakan penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya penyimak.

Contoh : Tukang Becak yang biasa mengantar turis secara tidak langsung pandai berkomunikasi menggunakan bahasa asing.


Menyimak sosial, berlangsung dalam situasi sosial, misalnya orang mengobrol, bercengkrama mengenai hal-hal menarik perhatian semua orang dan saling menyimak satu dengan yang lainnya, untuk merespon yang pantas, mengikuti bagian-bagian yang menarik dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa yang dikemukakan atau dikatakan orang.

3) Berdasarkan Titik Pandang Aktivitas menyimak

Menyimak Berdasarkan pada titik pandang aktivitas penyimak dapat diklarifikasikan:


Kegiatan menyimak bertarap rendah

Kegiatan menyimak bertaraf rendah berupa penyimak baru sampai pada kegiatan memberikan dorongan, perhatian, dan menunjang pembicaraan. Biasanya aktivitas itu bersifat nonverbal seperti mengangguk-angguk, senyum, sikap tertib dan penuh perhatian atau melalui ucapan-ucapan pendek seperti benar, saya setuju, ya, ya dan sebagainya. Menyimak dalam taraf rendah ini dikenal dengan nama silent listening.

Contoh: siswa yang sedang mendengarkan penjelasan dari guru, yang hanya menunjukkan respon mengangguk, tersenyum, dan sebagainya.


Kegiatan menyimak bertaraf tinggi

Aktivitas menyimak yang bertaraf tinggi, penyimak sudah dapat mengutarakan kembali isi bahan simakan. Pengutaraan kembali isi bahan simakan menandakan bahwa penyimak sudah memahami isi bahan simakan. Jenis menyimak seperti ini disebut dengan nama active listening.

Contoh: setelah siswa menerima pembelajaran, secara bergantian siswa mengutarakan apa yang didapatnya pada hari itu.

4) Berdasarkan taraf hasil simakan

Berdasarkan taraf hasil simakan, terdpat beberapa ragam, antara lain:


Menyimak terpusat

Menyimak terpusat adlah menyimak suatu aba-aba atau perintah untuk mengetahui kapan harus ulai melaksanakan sesuatu yang diperintahkan.

Contoh: ketika belajar membuat kue, saya selalu mendengarkan intruksi dari ibu kapan saya harus memasukkan telur, kapan harus memengeluarkan adonan dari oven, dan sebagainya.


Menyimak untuk membandingkan

Penyimak menyimak pesan tersebut kemudian membandingkan isi pesan tersebut dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak yang relevan.

Contoh: kemarin sore, saya mendengarkan siaran berita yang memberitakan seorang siswa MAN yang kepergok membawa minuman kers ke sekolah. Setelah mendengar itu, saya kemudian membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan saya bahwa siswa MAN adalah siswa yang dikenal religi. Tapi hal ini berlawanan dengan berita yang saya dengarkan. Maka saya membandingkannya.


Menyimak organisasi materi

Yang dipentingkan oleh penyimak disini ialah mengetahui organisasi pikiran yang disampaikan pembaca, baik ide pokoknya maupun ide penunjangnya.

Contoh: saya mengikuti seminar proposal skripsi teman saya, berarti saya telah melakukan kegiatan menyimak organisasi materi karena saya tahu ide-ide yang disampaikannya.


Menyimak kritis

Menyimak kritis (critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang berupa untuk mencari kesalahan atau kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan berar dan ujaran seorang pembicara dengan alasan-alasan yang kuat yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat.

Contoh: ketika mangikuti seminar proposal skripsi, karena ada hal yang kurang bisa diterima dan dimengerti, maka saya meminta pada nara sumber untuk menjelaskan maksudnya.


Menyimak kreatif dan apresiatif

Menyimak kreatif (creative listening) adalah sejenis kegiatan dalam menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatit para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan atau dirangsang oleh apa-apa yang disimaknya.

Contoh: suatu saat saya mendengarkan acara TV “hidup ini indah”. Setelah menyimak acara tersebut, saya jadi terinspirasi untuk menjadi seorang wirausaha sukses.

5) Berdasarkan tujuan menyimak

Ada enam macam ragam menyimak berdasarkan tujuan menyimak, yakni:


Menyimak sederhana

Menyimak sederhana terjadi dalam percakapan dengan teman atau percakapan melalui telepon.


Menyimak deskriminatif

Menyimak untuk membedakan suara atau perubahan suara.

Contoh: orang yang marah mengeluarkan nada suara yang berbeda dengan orang yang sedang bergembira.


Menyimak santai

Menyimak untuk tujuan kesenangan.

Contoh: menyimak film, drama, komedi, dan sebagainya.


Menyimak informatif

Menyimak untuk mencari informasi.

Contoh: menyimak siaran berita, menyimak pengumuman, dan sebagainya.


Menyimak literatur

Menyimak untuk mengorganisasikan gagasan.

Contoh: membahas hasil penemuan.


Menyimak kritis

Menyimak untuk menganalisis tujuan pembicara.

Contoh: dalam debat terbuka, ada dua pihak yang saling meminta kebenaran atas topik yang dibahas.

6) Berdasarkan tujuan khusus

Ada tujuh ragam menyimak berdasarkan tujuan khusus, yakni:


Menyimak untuk belajar

Melalui kegiatan menyimak seseorang mempelajari berbagai hal yang dibutuhkan. Contohnya: siswa yang menyimak penjelasan guru.


Menyimak untuk menghibur

Penyimak menyimak untuk menghibur dirinya. Contohnya: menyimak film, drama komedi, dan sebagainya.


Menyimak untuk menilai

Penyimak mendengarkan dan memahami isi simakan kemudian mengkaji, menguji, dan membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak. Contoh: menyimak fakta yang disiarkan di berita TV.


Menyimak apresiatif

Penyimak memahami, menghayati, mengapresiasi materi simakan. Contoh: menyimak pembacaan puisi, cerpen, drama, dsb.


Menyimak untuk mengomunikasikan ide dan perasaan

Penyimak memahami, merasakan gagasan, ide, dan perasaan pembicara. Contoh: orang yang sedang mendengarkan curahan hati sahabatnya.


Menyimak deskriminatif

Menyimak untuk membedakan suara atau bunyi. Contoh: perbedaan suara orang yang sedang bergembira dan orang yang sedang marah.


Menyimak pemecahan masalah

Penyimak mengikuti uraian pemecahan masalah secara kreatif dan analitis yang disampaikan oleh pembaca. Contoh: seorang psikolog yang mendengarkan keluhan pasiennya dan berusaha memberikan solusi terhadap masalah pasien tersebut.



Sumber

http://zoelfatas.blogspot.com/2009/01/ragam-menyimak.html

http://pramuka-achank.blogspot.com/2009/05/jenis-jenis-menyimak.html

http://affandy.ss.blog.plasa.com/2008/07/18/belajar-menyimak/ 

Senin, 16 September 2013

SEJARAH PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA

Periodisasi perkembangan sastra Indonesia
  1.  Menurut Nugroho Notosusanto
  1. Sastra melayu lama
    1. masa kebangkitan (1920-1945)
    2. Masa perkembangan (1945 s.d. sekarang)
    1. Sastra modern
# masa kebangkitan terdiri atas tiga periode:
  1. periode 20
  2. periode 33
  3. periode 42
# masa perkembangan
  1. periode 45
  2. periode 50
2        Menurut HB Jassin
a    Sastra Melayu lama
  1. Sastra Melayu modern
  2. angkatan 20
  3. angkatan 33
  4. angkatan 45
  5. angkatan 66
3        Menurut Ajip Rosidi
a    Masa kelahiran (1900-1945)
  1. Periode awal s.d. 1933
  2. Periode 1933-1942
  3. Periode 1942-1945
b    Masa Perkembangan (1945- sekarang)
  1.      Periode 1945-1953
  2.      Periode 1953-1961
  3.      Periode 1961-sekarang
  1. Menurut Rachmat Djoko Pradopo
            1.  Periode Balai Pustaka     : 1920-1940

            2. Periode Pujangga Baru   : 1930-1945

            3. Periode angkatan 45       : 1940-1955

            4. Periode angkatan 50       : 1950-1970

            5. Periode angkatan 70       : 1965-1984

# Karakteristik Kesusastraan Balai Pustaka
Pada tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan lembaga bacaan rakyat yang bernama volkslectuur. Pada tahun 1917volkslectuur diubah namanya menjadi Balai Pustaka yang para redakturnya terdiri atas penulis dan ahli bahasa melayu.
Naskah-naskah Balai Pustaka memiliki syarat-syarat sebagai berikut.

  • Karangan jangan mengandung unsur yang menentang pemerintah
  • Karangan tidak boleh menyinggung perasaan golongan tertentu dalam masyarakat
  • Karangan jangan menyinggung seseorang penganut agama.
Angkatan Balai Pustaka banyak menghasilkan karya sastra berupa roman, saduran dan terjemahan hasil karya pujangga asing ternama. Pada fase-fase terakhirnya, barulah Balai Pustaka menerbitkan naskah-naskah pengarang muda Indonesia baik prosa maupun puisi, meskipun jumlahnya sedikit.

# Karakteristik kesusastraan Angkatan Pujangga Baru
Masa angkatan Pujangga Baru dimulai dengan terbitnya majalah pujangga baru, pada bulan Mei 1933. Penerbitan majalah tersebut dipimpin oleh tiga serangkai pujangga baru, yakni Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisyahbana. Sebenarnya angakatan pujangga baru sangat dipengaruhi oleh pujangga Belanda angkatan 1880, karena pada zaman tersebut banyak pemuda Indonesia yang berpendidikan barat.
Sifat kesusastraan angkatan pujangga baru:
  1. Dinamis
  2. Bercorak romantis-idealistis, aktif-romantik.
  3. Bahasanya mempergunakan bahasa Melayu yang lebih modern.
  4. Ciri-ciri bentuk kesusastraan angkatan pujangga baru:
    1. a.    Puisi
Yang memegang peranan penting adalah sonata. Sajak, jumlah suku kata dan   syarat-syarat puisi lainnya sudah tidak mengikat lagi.
                    b.   Prosa
Yang memegang peranan penting adalah roman, yang menceritakan perjuangan kemerdekaan dan pergerakan kebangsaan.
                    c.    Drama
Drama pada angkatan pujangga baru bertema kesadaran nasional.

# Karakteristik Angkatan 1945
Yang memberi nama Angkatan ’45 ialah Rosihan Anwar dalam majalah Siasat tahun 1949. Pelopor puisi angkatan 45 adalah Chairil Anwar, sedangkan prosanya adalah Idrus.
Angkatan 45 dipengaruhi oleh Marsman, Schlauerhoff, seperti yang terlihat pada sajak-sajak Chairil Anwar yang dipengaruhi oleh pujangga-pujangga dunia.
Ciri-ciri karya angkatan 45:
  1. Sajak: berisi akibat dari peperangan dan perjuangan dunia
  2. Novel: lebih banyak menghasilkan daripada roman
  3. Drama: menceritakan tentang keadaan setelah perang
  4. Cerpen: isinya menggambarkan peri-kehidupan manusia
# Karakteristik Angkatan ‘50
Pada tahun-tahun yang lalu belum ada penegasan tentang adanya angkatan ’50. H.B. Jasin belum menyebutkan Angkatan ’50, sedangkan Slamet Muljono berpendapat bahwa sastrawan Angkatan ’50 hanyalah pelanjut (successor) saja, karena beliau menganggap bahwa sastra Indonesia lahir pada tahun 1945 (Indonesia Merdeka). Karakteristik yang menonjol pada angkatan ini adalah sebagai berikut.
  1. Berisi kebebasan sastrawan yang lebih luas di atas kebiasaan (tradisi) yang diletakan pada tahun 1945.
  2. Masa ’50 memberikan pernyataan tentang aspirasi (tujuan yang terakhir dicapai) nasinal lebih jauh.
  3. pusat kegiatan sastra makin banyak jumlahnya (tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia), selain berpusat di jakarta dan jogyakarta.
  4. menunjukan sastra nasional Indonesia yang ditunjukan dalam puisi yang bertema kebudayaan daerah.
  5. keindahan puisi sudah dimulai didasarkan pada peleburan (kristalisasi) antara ilmu dan pengetahuan asing dengan perasaan dan ukuran nasional.
Periode ’50 bukan hanya pengekor (epigon) angkatan ’45, angkatan ini juga merupakan survival. Pada tahun 1950-an, terdapat beberapa peristiwa-peristiwa yang menggoncangkan negeri yang juga berekses buruk terhadap perkembangan sastra Indonesia saat itu. Sastrwan-sastrawan periode ini antara lain Ajip Rosidi, Toto Sukarto Bachtiar, Ramadhan K.H., Nugroho Notosusasnto, Trisnojuwono.

# Karakteristik Angkatan ‘66
Generasi ’66, yaitu suatu generasi baru yang melakukan pendobrakan terhadap penyelewengan besar-besaran yang membawa negara ke jurang kehancuran. Pada tahun 1966 terjadi suatu ledakan pemberontakan dari penyair, pengarang dan cendekiawan yang telah sekian lama  dijajah jiwanya oleh semboyan-semboyan atau slogan-slogan yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.  Tugas angkatan ’66, ialah membela Pancasila dan menjaga jangan sampai timbul lagi tirani, demi mengisi revolusi guna mencapai soisalisme Indonesia. Dapatlah dicatat nama-nama: Ajip Rosidi, Rendra, Goenawan Mohammad, Taufiq Ismail, A A.Navis, Idris.

# Karakteristik Angkatan ‘80
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyak bermunculannya roman percintaan. Banyak sastrawan wanita yang lahir pada angkatan ini, salah satunya adalah Marga T. dan Mira W.  Mereka adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis. Majalah Horison tidak ada lagi, karya sastra Indonesia pada angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 80-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop (tetapi tetap sah disebut sastra, jika sastra dianggap sebagai salah satu alat komunikasi), yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman dengan serial Lupus-nya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar membaca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih “berat”.

# Karakteristik Angkatan Reformasi
Seiring terjadi pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang sastrawan reformasi. Munculnya angakatan Reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra Harian Republika, misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antalogi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan angkatan reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya orde baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra puisi, cerpen dan novel pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

# Sastrawan Angkatan 2000-an
Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya sastrawan angakatan 2000. Sebuah buku tebal tentang angkatan 2000 yang disusun dan diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta, tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukan Korrie ke dalam angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir tahun 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rose Herliany.


SEJARAH PERKEMBANGAN PUISI INDONESIA
  1. 1. Puisi Lama
Puisi lama merupakan pancaran masyarakat lama. Adapun ciri-ciri puisi lama, yaitu:
  1. merupakan puisi rakyat
  2. Pengarangnya anonim (tak dikenal)
  3. Puisi lama umumnya disampaikan dari mulut ke mulut (kesusastraan lisan)
  4. Terikat oleh syarat-syarat mutlak (bait, suku kata) dan tradisionil
Bentuk puisi lama adalah mantera, bidal, pantun, talibun, seloka.
  1. 2. Puisi Baru
Puisi baru merupakan pancaran masyarakat baru, yang banyak dihasilkan oleh sastrawan balai pustaka dan pujangga baru. Bahasanya sudah kurang kemelayu-melayuan sedangkan isinya sebagai jelmaan cita-rasa pengubahnya.
Macam-macam puisi baru antara lain, yaitu:
  1. Distichon (sajak dua seuntai)
  2. Terzina (Sajak 3 seuntai)
  3. Quatrain (sajak 4 seuntai)
  4. Quint (Sajak 5 seuntai)
  5. Sextet (sajak 6 seuntai)
  6. Septima (sajak 7 seuntai)
  7. Stanza/octav (sajak 8 seuntai)
  8. Soneta
Puisi baru banyak menghasilkan puisi berbentuk soneta. Seperti Gembala (M. Yamin), candi (Sanusi Pane).
  1. 3. Puisi zaman Jepang
Datangnya Jepang di Indonesia, sunnguh mengejutkan. Mereka menjanjikan kemerdekaan, kemakmuran dan kebahagiaan kepada bangsa Indonesia, Janji-janji dan semboyan Jepang sungguh mengagumkan dan mengikat hati bangsa Indonesia, sehingga banyak yang tertipu olehnya termasuk para penyair dan pengarang yang mengajak dan menganjurkan agar membantu, bahkan mengabdi perjuangan Dai Nippon.
Para pujangga yang bernafaskan nasional ketuhanan senanyiasa mengajak agar bangsa indonesia turut berjuang disamping Dai Nippon demi kepentingan bangsa sehinnga terlahirlah puisi-puisi yang yang bertemakan perjuangan, salah satunya adalah puisi yang berjudul “kita Berjuang”.
Setelah jepang mengingkari janjinya, bangsa Indonesia tak percaya lagi pada Jepang bahkan dendam, untuk menonjolkan perasaan demikian, mereka takut. Akhirnya banyaklah pujangga mencari jalan keluar, agar buah penanya dapat lolos dari sensor Jepang yang dijalankan oleh keimin bunkha shidosa. Mereka menciptakan buah karyanya yang bersifat simbolik, seperti Maria Amin dalam puisinya “Kapal Udara”.
Penderitaan yang luar biasa, lazimnya mendekatkan manusia kepada Tuhan itulah sebabnya banyak oujangga yang tidak puas akan kenyataan, lari kedunia suka cita atau romantik seperti tampak pada buah pena Amal hamzah,
Bukti pelariannya ia menterjemahkan Gitanyali serta buah penaRabindranath Tagore lainnya yang dikumpulkan “Seroja dari gangga”.
Kemudian para pemimpin Indonesia menyadari, bekerja berjuang dengan Nippon itu harus lebih ditunjukan demi kepentingan nusa-bangsanya sendiri, seperti isi puisi Rosihan Anwar yang berkepala“Kisah diwaktu pagi” dan “lukisan”.
Tidak bisa kita elakan pada waktu  itu lahir seorang penyair yang sangat terkenal, yakni Chairil Anwar. Ia penyair realistis_individualistis. Serta sastrawan-sastrawan lain antara lain: Annas ma’ruf, Bung Usman, Azahar munir sjamsul, dan Nursjamsu.
  1. Puisi Modern ( Angkatan ‘45)
Setelah Indonesia merdeka, hilanglah tabir penghalang atau tabir pengekang jiwa dan cita-cita bangsa Indonesia. Selain menciptakan kemerdekaan bangsa dan tanah air, menelurkan pula jiwa yang bebas dinamis dan realistis, revolusioner serta memancarkan seni-sastra yang bernafaskan irama ’45 pula.
Pada puisi angkatan ’45 bukanlah rima bukan pula bentuk yang diutamakan, melainkan isi yang ditonjolkannya. Kalau perlu bahasanya pun harus tunduk pada isi yang merupakan perwujudan cita-cita.
Chairil Anwar seorang pelopor penyair angkatan ’45, memproklamirkan jiwanya yang individualistis lewat puisinya “AKU” dan sebuah puisi yang merupakan peringatan yang perlu diperhatikan adalah “Ceritera buat dien Tamaela” nafas-nafas ke-Tuhanan Chairil Anwar dapat kita rasakan dalam puisinya Do’a dan Isa. Indonesia memasuki dunia baru dalam gelanggang seni sastra, menandakan larirnya angkatan baru yang lazim dengan sebutan angkatan muda, tapi pada tahun 1949 Rosihan Anwar memberi nama baru yang lebih populer lagi yaitu Angkatan ’45.
Jejak langkah pelopor penyair angkatan ’45 diikuti dan diteruskan oleh para pengikutnya dua orang rekan Chairil Anwar yakni, Riva’i Arivin dan Asrul San. Ketiganya merupakan “tri tunggal penyair angkatan ‘45” sebagai buktinya melalui karyanya “Tiga Menguak Takdir” kumpulan puisi buah pena mereka.
Umar Ismail, ali talim, Mahatmanto, dan Bahrum Rangkuti merupakan penyair angkatan ’45 yang relijius. Pada angkatan ’45 juga terdapat sastrawan perempuan, yaitu Maria Amin, Nursjamsu, Walujati, Samiati Alisjahbana, dan Rukiah.






Referensi : http://aldikarestupramuli.wordpress.com/2009/12/30/sejarah-perkembangan-sastra-indonesia/trackback/